Sabtu, 19 Februari 2011

Makalah Abortus

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG.

Abortus atau lebih dikenal dengan istilah keguguran adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar rahim. Janin belum mampu hidup di luar rahim, jika beratnya kurang dari 500 g, atau usia kehamilan kurang dari 20 minggu karena pada saat ini proses plasentasi belum selesai. Pada bulan pertama kehamilan yang mengalami abortus, hampir selalu didahului dengan matinya janin dalam rahim.

Keguguran atau abortus disebabkan oleh banyak faktor, antara lain:

- Kelainan sel telur ibu, biasanya terjadi di awal kehamilan.

- Kelainan anatomi organ reproduksi ibu, misalnya mengalami kelainan atau gangguan pada rahim.

- Gangguan sirkulasi plasenta akibat ibu menderita suatu penyakit, atau kelainan pembentukan plasenta.

- Ibu menderita penyakit berat seperti infeksi yang disertai demam tinggi, penyakit jantung atau paru yang kronik, keracunan, mengalami kekurangan vitamin berat, dll.

- Antagonis Rhesus ibu yang merusak darah janin.

B. TUJUAN.

1. Tujuan Umum
Dapat melakukan asuhan keperawatan menjadi wanita yang mendapatkan incomplit aborsi.
2. Tujuan Khusus
a. Dapat melakukan memeriksa kepada perempuan dengan incomplit aborsi
b. Dapatkah identitas keperawatan mendiagnosa dan memberikan perawatan kepada
wanita dengan incomplit aborsi
c. Dapat menentukan intervensi keperawatan perawatan Perawatan yang baik kepada
wanita dengan incomplit aborsi
d. Dapat menentukan intervensi pada wanita dengan incomplit aborsi

e. Dapat mengevaluasi intervensi keperawatan telah diberikan kepada perempuan dengan aborsi incomplit.

C. MANFAAT.

1. Untuk penulis.
Dapat membandingkan antara teori dan fakta di lapangan dia tentang aborsi
imminens espicially untuk Aborsi Imminens.

2. Untuk rumah sakit.
dapat meningkatkan pelayanan keperawatan menyehatkan kualitas perawatan khusus memberikan kepada
wanita dengan aborsi imminens.

3. Untuk lembaga.
Menjadi masukan ibu dari proses belajar mengajar bersalin keperawatan
terutama dalam memberikan asuhan keperawatan kepada perempuan dengan aborsi imminens.

BAB II

KONSEP TEORITIS

A. DEFINISI.

Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.

Istilah abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan.

Berdasarkan variasi berbagai batasan yang ada tentang usia / berat lahir janin viable (yang mampu hidup di luar kandungan), akhirnya ditentukan suatu batasan abortus sebagai pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 g atau usia kehamilan 20 minggu. (terakhir, WHO/FIGO 1998 : 22 minggu)

B. ETIOLOGI.

Abortus dapat terjadi karena beberapa sebab, yaitu :

· Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi, biasa menyebabkan abortus pada kehamilan sebelum usia 8 minggu. Faktor yang menyebabkan kelainan ini adalah

a. Kelainan kromosom, terutama trisomi autosom dan monosomi X.

b. Lingkungan sekitar tempat implantasi kurang sempurna.

c. Pengaruh teratogen akibat radiasi, virus, obat-obatan, tembakau atau alkohol.

· Kelainan pada plasenta, misalnya endarteritis vili korialis karena hipertensi menahun

· Faktor maternal, seperti pneumonia, tifus, anemia berat, keracunan dan toksoplasmosis.

· Kelainan traktus genetalia seperti inkompetensi serviks (untuk abortus pada trimester kedua) retroversi uteri, mioma uteri dan kelainan bawaan uterus.

C. PATOGENESIS

Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis, diikuti nekrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut.

Pada kehamilan kurang dari 6 minggu, villi kotaris belum menembus desidua secara dalam, jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu, penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu, janin dikeluarkan lebih dahulu daripada plasenta. Hasil konsepsi keluar dalam berbagai bentuk, seperti kantong kosong amnion atau benda kecil yang tak jelas bentuknya (lighted ovum) janin lahir mati, janin masih hidup, mola kruenta, fetus kompresus, maserasi atau fetus papiraseus.

D. MANIFETASI KLINIS

  • Terlambat haid atau amenore kurang dari 20 minggu.
  • Pada pemeriksaan fisik : Keadaan umum tampak lemah atau kesadaran menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, suhu badan normal atau meningkat.
  • Perdarahan pervaginam, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil konsepsi
  • Rasa mulas atau keram perut di daerah atas simfisis, sering disertai nyeri pinggang akibat kontraksi uterus
  • Pemeriksaan ginekologi :

a. Inspeksi vulva : perdarahan pervaginam ada / tidak jaringan hasil konsepsi, tercium/tidak bau busuk dari vulva

b. Inspekulo : perdarahan dari kavum uteri, ostium uteri terbuka atau sudah tertutup, ada/tidak jaringan keluar dari ostium, ada/tidak cairan atau jaringan berbau busuk dario ostium.

c. Colok vagina : porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak jaringan dalam kavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio dogoyang, tidak nyeri pada perabaan adneksa, kavum Douglasi, tidak menonjol dan tidak nyeri.

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG.

· Tes kehamilan : positif bila janin masih hidup, bahkan 2 – 3 minggu setelah abortus.

· Pemeriksaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup.

· Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion.

F. KOMPLIKASI.

· Perdarahan, perforasi, syok dan infeksi

· Pada missed abortion dengan retensi lama hasil konsepsi dapat terjadi kelainan pembekuan darah.

G. FAKTOR RISIKO / PREDISPOSISI YANG (DIDUGA) BERHUBUNGAN DENGAN TERJADINYA ABORTUS.

1. Usia ibu yang lanjut

2. Riwayat obstetri / ginekologi yang kurang baik

3. Riwayat infertilitas

4. Adanya kelainan / penyakit yang menyertai kehamilan (misalnya diabetes, penyakitgh Imunologi sistemik dsb).

5. berbagai macam infeksi (variola, CMV, toxoplasma, dsb)

6. paparan dengan berbagai macam zat kimia (rokok, obat2an, alkohol, radiasi, dsb).

7. trauma abdomen / pelvis pada trimester pertama

8. kelainan kromosom (trisomi / monosomi)Dari aspek biologi molekular, kelainan kromosom ternyata paling sering dan paling jelas berhubungan dengan terjadinya abortus.

H. PENATALAKSANAAN PASCA ABORTUS.

Pemeriksaan lanjut untuk mencari penyebab abortus. Perhatikan juga involusi uterus dan kadar B-hCG 1-2 bulan kemudian.Pasien dianjurkan jangan hamil dulu selama 3 bulan kemudian (jika perlu, anjurkan pemakaian kontrasepsi kondom atau pil.

BAB III

MANAJEMEN ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN DATA.

1. IDENTITAS PASIEN.

a. Identitas pasien :

Nama Ibu : Nurmi Ben

Umur : 38 tahun

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat : Dusun Paya Merbo – Blang Mane

Keluhan Utama : Pendarahan (Keguguran)

Keluhan Tambahan : Lemas

Vital Sign : TD = 110 / 80 mmHg

Nadi = 80x / i

Respi = 24x / i

Temp = 36oC

Terapi Infus : Infus RI dengan Kec guyur 1 FIS

Obat Oral : - Amoxilin 500 mg 3 x 1

- Vit K 3 x 1

Pasien Rawat Inap

Tanggal periksa : 21 – 1 - 2011-02-01

Keguguran

G : 6 P : 5 A : 1

HPHT : 8 – 10 – 2010

Keguguran pada usia kehamilan 2 bulan / 8 minggu

Nama Suami : Rasyidin

Umur : 39 tahun

Jenis Kelamin : laki – laki

Pekerjaan : Tani

Alamat : Dusun Paya Merbo – Blang Mane

2. RIWAYAT PENYAKIT.

Riwayat Penyakit Terdahulu
- Tidak menderita penyakit pneumonia, tifus abdominalis, malaria, sifilis, anemia, toksoplasmasis.
- Tidak menderita penyakit menahun seperti hipertensi, penyakit ginjal, penyakit hati, DM.
- Tidak menderita keracunan, nikotin, gas beracun, alkohol.
Riwayat Penyakit Sekarang
- Tidak menderita penyakit pneumonia, tifus abdominalis, malaria, sifilis, anemia, toksoplasmasis.
- Tidak menderita penyakit menahun seperti hipertensi, penyakit ginjal,

penyakit hati,DM.
- Tidak menderita keracunan, nikotin, gas beracun, alkohol.
Riwayat Penyakit Keluarga
- Tidak ada Penyakit menahun dalam keluarga seperti menahun (hipertensi, DM).
- Menular (hepatitis)
Riwayat Menstruasi
Menarche : Umur 15 Thn
Siklus haid : 28 hari
Lama haid : 7 hari
Banyaknya darah : 2 kali ganti duk
Disminorhoe : Ada
Flour albus : Tidak ada
Amenorhoe : Bulan nopember 2010
TTP : 16 – 7 – 2011
Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
Ibu mengatakan hamil yang ke 6.
Riwayat kehamilan sekarang
Ini merupakan kehamilan 6
Keluhan selama hamil : keluar darah sedikit-sedikit / flek-flek mulai 2 hari yang lalu tanpa disertai dengan keluarnya jaringan.
- Berapa kali periksa hamil (standar ANC 4 kali) TM 1 = 2 kali yang didapat saat periksa hamil : Flek darah lurus.
Riwayat perkawinan
- Status perkawinan : Kawin
- Banyaknya perkawinan : 1 kali dengan suami sekarang.
- Lama perkawinan : 15 Tahun.
Riwayat KB
- KB yang pernah digunakan : Tidak ada.
Riwayat Psiko spiritual
Psikologis
- Perasaan yang dirasakan ibu cemas.
- Kehamilan ini diinginkan.
Spiritual
- Ibadah/ajaran agama yang dilaksanakan ibu selama kehamilan, misalnya sholat, mengaji dll.
Latar belakang sosial budaya
- Hubungan ibu dengan suami, orang tua, mertua, dan tetangga baik.
- Tanggapan dan dukungan keluarga dengan kehamilan ini = baik.
Perilaku kesehatan
- Kebiasaan ibu dan keluarga untuk ke pelayanan kesehatan saat sakit misalnya ke Puskesmas.
- Tidak minum-minuman keras, merokok.
- Tidak memakai obat-obatan terlarang seperti narkoba, zat adiktif, dll.
14. Pola kebiasaan sehari-hari
• Nutrisi
- Makan 2 – 3 x/hari
- Minum air putih 6 – 8 gelas/hari
- Komposisi nasi, lauk, sayur

• Eliminasi
- BAB 1 –2 x/hari
Konsistensi lunak, warna kuning
- BAK 6 – 8 x/hari
• Aktivitas
Bed rest total

• Istirahat
- Tidur siang : 1 – 2 jam/hari
- Tidur malam : + 7 – 8 jam/hari
• Kebersihan
- Mandi 2 – 3x/hari.
- Ganti pakaian dalam 2x/hari.
- Ganti pakaian luar 1 – 2 x/hari.
• Seksualitas
- Tidak boleh melakukan hubungan intim karenaperdarahan / abortus pada TM I (kehamilan muda)
- Tidak boleh melakukan hubungan intim pada TM III atau apabila kepala sudah masuk rongga panggul.

3. DATA OBYEKTIF

1. Pemeriksaan fisik
KU : baik
Kesadaran : Composmentis
TD : 110/80 – 129/85 mmHg
N : 80x/menit
RR : 24 x /menit
S : 36 o.
TB : 150 cm
Lila : 24 cm
BB : - Sebelum Hamil : 50 kg.

- Trisemester : 51 kg.

2. Pemeriksaan Khusus
Inspeksi
Kepala : Rambut lurus, tidak ada benjolan, ketombe ada/tidak

· Muka : Simetris, pucat/tidak, cloasma gravidarum ada/tidak, cemas/ada, takut/ada kesakitan/ada.
Mata : Bentuk simetris, konjungtiva anemis/tidak, seklera tidak ikterus.

· Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid/vena jugularis
Dada : Hyperpigmentasi areola mamae, puting menonjol
Perut : Terdapat linea alba, tidak ada luka bekas operasi, membesar sesuai dengan usia kehamilan
Genetalia : Tidak ada odema, perdarahan sedikit-sedikit/flek-flek tanpa ada jaringan yang keluar di pembalut
Ekstrimitas : Tidak odema, tidak varies

· Palpasi
Leopoid I : pertengahan antara Sy – pst
Leopoid II : -
Leopoid III : -
Leopoid IV : -

· Auskultasi
DJJ belum terdengar
Perkusi :
Reflek patela : +/+

Pemeriksaan dalam : tidak dilakukan
Pemeriksaan Lab. : ( - )

· II. Interpretasi Data
DX : Ny “ “ dengan abortus imminen
DS : Ibu mengatakan keluar darah sedikit-sedikit dari kemaluannya tidak ada gumpalan.
Ibu mengatakan cemas / khawatir dengan keadaannya dan janinnya.
DO : KU : Baik
Kesadaran : Composmentis
TD : 110/80 mmHg
N : 80 x / menit
S : 36 o

R : 24 x /menit
TB : 150 cm
BB : - Sebelum hamil : 50 kg

- Trimester I : 51 kg

Inspeksi
Genetalia : keluar darah sedikit-sedikit / flek-flek tanpa adanya jaringan yang keluar dari pembalut.
Palpasi
Leopoid I : pertengahan antara Sy – pst
Auskultasi
DJJ belum terdengar

· III. Identifikasi Diagnosa / masalah potensial
Abortus Imminen

· IV. Evaluasi kebutuhan segera
Bedrest (tirah baring)

· V. Intervensi
DX : Ny “ “ dengan abortus imminens
Tujuan : Kehamilan masih dapat dipertahankan
Kriteria hasil :

· Intervensi
- Lakukan pendekatan dengan pasien
Rasional : Dapat terjalin kerja sama yang baik sehingga memudahkan dalam melaksanakan intervensi
- Minta pasien menandatangani surat persetujuan tindakan medis (informet consent)
Rasional : Sebagai bukti tertulis bahwa pasien setuju dengan tindakan medis yang akan dilakukan terhadap klien tersebut setelah mendapatkan informasi dan penjelasan dari petugas

· - Bina hubungan baik dengan ibu dan keluarga
Rasional : Rasa percaya ibu dan keluarga akan membantu terlaksananya dan tercapainya tujuan pemberian intervensi
- Anjurkan USG
Rasional : Untuk memastikan bahwa kehamilan ibu masih bisa dipertahankan atau tidak.
- Lakukan pemeriksaan terhadap ibu
Rasional : Untuk mengetahui keadaan ibu
- Beritahu ibu kondisinya dan janinnya saat ini
Rasional : Dapat mengurangi kecemasan ibu
- Jelaskan ibu banyak istirahat/tirah baring (tidak boleh turun dari tempat tidur)
Rasional : Dapat menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan berkurangnya rangsang mekanik
- Jelaskan ibu untuk tidak melakukan aktifitas fisik berlebih
Rasional : Dapat mengurangi rangsang mekanik
- Jelaskan ibu untuk tidak melakukan hubungan seksual, TM I (kehamilan muda), Rasional : Dengan melakukan hubungan Seks dapat menimbulkan kontraksi uterus karena sperma mengandung prostaglandin sehingga terjadi perdarahan
- Berikan Vit K, Fe
Rasional : Dapat menghentikan perdarahan dan menggantikan darah yang hilang
- Jadwalkan kunjungan ulang berikutnya
Rasional : Untuk mengetahui perkembangan ibu dan janin

· Implementasi
Sesuai dengan intervensi

· Evaluasi
Mengacu pada kriteria hasil

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Devisit Volume Cairan s.d perdarahan

2. Gangguan Aktivitas s.d kelemahan, penurunan sirkulasi

3. Gangguan rasa nyaman: Nyeri s.d kerusakan jaringan intrauteri

4. Resiko tinggi Infeksi s.d perdarahan, kondisi vulva lembab

5. Cemas s.d kurang pengetahuan

BAB IV

PEMBAHASAN

Abortus adalah keluarnya janin sebelum mencapai viabilitas. Dimana masa gestasi belum mencapai usia 22 minggu dan beratnya kurang dari 500gr (Derek liewollyn&Jones, 2002).

Terdapat beberapa macam kelainan dalam kehamilan dalam hal ini adalah abortus yaitu abortus spontan, abortus buatan, dan terapeutik. Abortus spontan terjadi karena kualitas sel telur dan sel sperma yang kurang baik untuk berkembang menjadi sebuah janin. Abortus buatan merupakan pengakhiran kehamilan dengan disengaja sebelum usia kandungan 28 minggu.Pengguguran kandungan buatan karena indikasi medik disebut abortus terapeutik (Prawirohardjo, S, 2002). Menariknya pembahasan tentang abortus dikarenakan pemahaman di kalangan masyarakat masih merupakan suatu tindakan yang masih dipandang sebelah mata. Oleh karena itu, pandangan yang ada di dalam masyarakat tidak boleh sama dengan pandangan yang dimiliki oleh tenaga kesehatan, dalam hal ini adalah perawat setelah membaca pokok bahasan ini.

Angka kejadian abortus diperkirakan frekuensi dari abortus spontan berkisar 10-15%. Frekuensi ini dapat mencapai angka 50% jika diperhitungkan banyak wanita mengalami kehamilan dengan usia sangat dini, terlambatnya menarche selama beberapa hari, sehingga seorang wanita tidak mengetahui kehamilannya. Di Indonesia, diperkirakan ada 5 juta kehamilan per-tahun, dengan demikian setiap tahun terdapat 500.000-750.000 janin yang mengalami abortus spontan.

Abortus terjadi pada usisa kehamilan kurang dari 8 minggu, janin dikeluarkan seluruhnya karena villi koriales belum menembus desidua secara mendalam. Pada kehamilan 8–14 minggu villi koriales menembus desidua secara mendalam, plasenta tidak dilepaskan sempurna sehingga banyak perdarahan. Pada kehamilan diatas 14 minggu, setelah ketubah pecah janin yang telah mati akan dikeluarkan dalam bentuk kantong amnion kosong dan kemudian plasenta (Prawirohardjo, S, 2002).

Peran perawat dalam penanganan abortus dan mencegah terjadinya abortus adalah dengan memberikan asuhan keperawatan yang tepat. Asuhan keperawatan yang tepat untuk klien harus dilakukan untuk meminimalisir terjadinya komplikasi serius yang dapat terjadi seiring dengan kejadian abortus.

BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN.

Dari pembahasan makalah diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa :

1. Abortus hanya dipraktikkan dalam klinik atau fasilitas kesehatan yang ditunjuk oleh pemerintah dan organisaso-organisasi profesi medis.

2. Aborsi hanya dilakukan oleh tenaga profesional yang terdaftar dan memperoleh izin untuk itu, yaitu dokter spesialis kebidanan dan genekologi atau dokter umum yang mempunyai kualifikasi untuk itu.

3. Aborsi hanya boleh dilakukan pada usia kehamilan kurang dari 12 minggu (untuk usia diatas 12 minggu bila terdapat indikasi medis).

4. Harus disediakan konseling bagi perempuan sebelum dan sesudah abortus.

5. Harus ditetapkan tarif baku yang terjangkau oleh segala lapisan masyarakat.

B. SARAN.

Abortus hendaknya dilakukan jika benar-benar terpaksa karena bagaimanapun didalam kehamilan berlaku kewajiban untuk menghormati kehidupan manusia dan abortus hendaknya dilakukan oleh tenaga profesional yang terdaftar.


DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda, (2001), Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Penerbit Buku Kedokteran

EGC, Jakarta

Hamilton, C. Mary, 1995, Dasar-dasar Keperawatan Maternitas, edisi 6, EGC, Jakarta

Mansjoer, Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I. Media Aesculapius. Jakarta

Apuranto, H dan Hoediyanto. 2006. Ilmu Kedokteran Forensik Dan Medikolegal. Surabaya: Bag. Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran UNAIR

Chadha, P. Vijay.1995. Catatan kuliah ilmu forensic & toksikologi (Hand book of forensic medicine & toxicology Medical jurisprudence). Jakarta : Widya Medika

Dewi, Made Heny Urmila. 1997. Aborsi Pro dan Kontra di Kalangan Petugas Kesehatan. Jogjakarta: Pusat Penelitian Kependudukan UGM

Prawirohardjo, Sarwono. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

Makalah Waktu Geologi

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.

Secara Etimologis Geologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Geo yang artinya bumi dan Logos yang artinya ilmu, Jadi Geologi adalah ilmu yang mempelajari bumi. Secara umum Geologi adalah ilmu yang mempelajari planet Bumi, termasuk Komposisi, keterbentukan, dan sejarahnya.

Karena Bumi tersusun oleh batuan, pengetahuan mengenai komposisi, pembentukan, dan sejarahnya merupakan hal utama dalam memahami sejarah bumi. Dengan kata lain batuan merupakan objek utama yang dipelajari dalam geologi.

Konsep waktu (yang benar) ditemukan di Edinburgh pada dekade 1770-an oleh sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh James Hutton. Mereka menantang konsep waktu konvensional yang telah ada di sepanjang sejarah hidup manusia, yang menyatakan bahwa unit waktu terukur adalah rentang hidup manusia dan bahwa umur planet Bumi hanya 6000 tahun (yang dihitung oleh Uskup Ussher berdasarkan kronologi alkitab). Hutton dan kawan-kawan telah mempelajari batuan di sepanjang pesisirSkotlandia dan menyimpulkan bahwa setiap formasi batuan, betapapun tua, adalah hasil erosi dari batuan lain, yang jauh lebih tua. Penemuan mereka memperlihatkan bahwa waktu terentang sangat jauhmelebihi manusia mampu bayangkan. Penemuan tersebut merubah cara pandang manusia terhadap Bumi, planet, bintang, dan juga terhadap kehadiran manusia itu sendiri. Sesungguhnya, konsep waktu yang berdasarkan observasi formasi batuan tersebut berakar dari prinsip paling dasar dalam ilmu Geologi, yaitu prinsip keseragaman (uniformitarianisme), yang menjadi dasar Geologi modern.

Skala waktu geologi digunakan oleh para ahli geologi dan ilmuwan untuk menjelaskan waktu dan hubungan antar peristiwa yang terjadi sepanjang sejarah Bumi. Tabel periode geologi yang ditampilkan di halaman ini disesuaikan dengan waktu dan tatanama yang diusulkan oleh International Commission on Stratigraphy dan menggunakan standar kode warna dari United States Geological Survey. Bukti-bukti dari penanggalan radiometri menunjukkan bahwa bumi berumur sekitar 4.570 juta tahun. Waktu geologi bumi disusun menjadi beberapa unit menurut peristiwa yang terjadi pada tiap periode.

B. Permasalahan.

Waktu Geologi.

· Konsep-Konsep tentang Waktu Geologi.

· Pendekatan Waktu Geologi.

· Penanggalan Relatif.

· Skala Waktu Geologi.


C. Tujuan.

· Agar mengetahui tentang Waktu Geologi.

· Memahami tentang waktu geologi.


BAB II

PEMBAHASAN

A. Waktu Geologi.

Waktu Geologi terbagi menjadi 2 EON (Fanerozoikum dan Prakambrium) yang masing-masing terbagi menjadi beberapa Era yaitu : Kenozoikum, Mesozaikum, dan Paleozaikum ( Eon Fanerozoikum) serta era Neoproterozaikum, Mesoproterozaikum, Paleoproterozaikum, Neoarkean, Mesoarkean, Paleoarkean, dan era Eoarkean (Eon Prakambrium). Rincian dengan dengan peristiwa yang terjadi dan periode waktu dapat dilihat pada uraian berikut.

1. EON : FANEROZOIKUM
1.1. ERA : KENOZOIKUM
1.1.1. PERIODE : NEOGEN
1.1.1.1. KALA/SERI : HOLOSEN (0,011430 ± 0,00013)
Peristiwa Utama : Akhir glasiasi dan kebangkitan peradaban manusia.
1.1.1.2. KALA/SERI :PLEISTOSEN (1,806 ± 0,005)
Peristiwa Utama : Berkembangnya dan selanjutnya punahnya banyak mamalia besar (megafauna Pleistosen). Evolusi manusia modern secara anatomis. Awal Zaman Es terkini.
1.1.1.3. KALA/SERI :PLIOSEN (5,332 ± 0,005)
Peristiwa Utama : Iklim dingin dan kering. Australopitheca; banyak mamalia dan moluska yang saat ini ada mulai muncul. Homo habilis muncul.
1.1.1.4. KALA/SERI : MIOSEN (23.03 ± 0,05)
Peristiwa : Iklim moderat; Orogeny di belahan utara. Mamalia dan familia burung modern dikenali. Berbagai kuda dan mastodon berkembang. Rumput tumbuh di mana-mana. Kera pertama muncul.
1.1.2. PERIODE : PALEOGEN
1.1.1.1. KALA/SERI : OLIGOSEN (33,9 ± 0,1)
Peristiwa Utama : Iklim hangat; Evolusi dan diversifikasi pada fauna pesat, terutama mamalia. Evolusi dan penyebaran utama berbagai jenis tumbuhan berbunga modern.
1.1.1.2. KALA/SERI : EOSEN (55,8 ± 0,2)
Peristiwa Utama : Mamalia kuno (mis. Creodont, Condylarth, Uintatheriidae, dll) berkembang. Munculnya beberapa keluarga mamalia "modern". Paus primitif terdiversifikasi. Rumput pertama. Ice cap berkembang di Antarktika. (megafauna Pleistosen). Evolusi manusia modern secara anatomis. Awal Zaman Es terkini.
1.1.1.3. KALA/SERI :PALEOSEN (65,5 ± 0,3)
Peristiwa Utama : Iklim tropis. Tumbuhan modern muncul; Mamalia terdiversikasi menjadi beberapa garis keturunan primitif menyusul kepunahan dinosaurus. Mamalia besar pertama (sampai seukuran beruang atau kuda nil kecil).
1.2. ERA : MESOZOIKUM
1.2.1 & 2. PERIODE : 1. KAPUR 2. JURA
1.2.1 & 2. 1. KALA/SERI : atas/akhir (99,8 ± 0,9); Bawah/Awal
(145,5 ± 4,0); Atas/Akhir (161, ± 4 ); Tengah
(175,6, ± 2,0 ); Bawah/awal (199,6, ± 0,6 )
Peristiwa Utama : Tumbuhan berbunga berkembang, bersama dengan jenis-jenis baru insekta. Ikan bertulang sejati (Teleostei) modern mulai bermunculan. Ammonita, Belemnoidea, Bivalvia rudist, Echinoidea dan Porifera umum ditemukan. Banyak jenis baru dinosaurus (mis. Tyrannosauridae, Titanosauridae, Hadrosauridae, dan Ceratopsidae) berkembang, juga Crocodilia modern; mosasaurus dan hiu modern muncul di laut. Burung primitif perlahan menggantikan pterosaurus. Mamalia monotremata, marsupialia and eutheria bermunculan. Gondwana terpecah. Gymnospermae (terutama tumbuhan runjung, Bennettitales dan sikas) dan paku-pakuan umum ditemukan. Banyak jenis dinosaurus, seperti sauropoda, carnosaurus, and stegosaurus. Mamalia kecil umum ditemukan. Burung pertama dan hewan melata bersisik (Squamata). Ichthyosaurus dan plesiosaurus berkembang. Bivalvia, ammonita dan Belemnoidea juga banyak dijumpai. Bulu babi sangat umum, juga lili laut, bintang laut, Porifera, Brachiopoda, Terebratulida, dan Rhynchonellida. Terpecahnya Pangaea menjadi Gondwana dan Laurasia.
1.2.3. PERIODE : 3. TRIAS
1.2.3.1. KALA/SERI : Atas/Akhir (228,0 ± 2,0);
Tengah (245,0, ± 1,5 ); Bawah/Awal (251,0, ± 0,4 )
Peristiwa Utama : Dinosaurus mendominasi: Archosaurus di daratan, Ichthyosaurus dan Nothosaurus di lautan, dan Pterosaurus di udara. Cynodonta menjadi lebih kecil dan lebih menyerupai mamalia; mamalia dan crocodilia pertama muncul. Dicrodium merupakan flora umum di daratan. Banyak terdapat amfibi Temnospondylus . Ammonita sangat umum. Koral modern dan ikan bertulang sejati (Teleostei) muncul, dan juga banyak insekta.
1.3. ERA : PALEOZOIKUM
1.3.1. PERIODE : 1. PERM
1.3.1.1. KALA/SERI : Lopingian (260,4 ± 0,7);
Guadalupian (270,6 ± 0,7); Cisuralian (299,0 ± 0,8 );
Peristiwa Utama : Daratan bergabung menjadi superbenua Pangaea, membentuk Pegunungan Appalachia. Akhir tahap glasial Permo-Carboniferous. Reptilia Synapsida (Pelycosaurus dan Therapsida) melimpah, sementara parareptilia dan [Amfibia Temnospondylia masih umum ditemukan. Pada zaman Perm pertengahan, flora zaman Karbon mulai digantikan oleh tumbuhan runjung (tumbuhan berbiji sejati pertama) dan tumbuhan lumut sejati pertama. Kumbang dan serangga bersayap dua berevolusi. Kehidupan laut berkembang di bagian terumbu dangkal yang hangat; Brachiopoda (Productida dan Spiriferida) , Bivalva, Foraminifera, dan amonit Orthocerida melimpah. Kepunahan massal antara Perm dan Trias terjadi 251 juta tahun yang lalu: 95 persen kehidupan di bumi pun, termasuk seluruh trilobita, graptolita, dan Blastoidea.
1.3.2. PERIODE : 2. KARBON/PENNSYLVANIAN
1.3.2.1. KALA/SERI : Atas/Akhir (306,5 ± 1,0);
Tengah (311,7 ± 1,1 ); Bawah/Awal (318,1 ± 1,3 )
Peristiwa Utama : Winged insects radiate suddenly; some (esp. Protodonata and Palaeodictyoptera) are quite large. Amphibians common and diverse. First reptiles and coal forests (scale trees, ferns, club trees, giant horsetails, Cordaites, etc.). Highest-ever oxygen levels. Goniatites, brachiopods, bryozoa, bivalves, and corals plentiful in the seas. Testate forams proliferate.
1.3.3. PERIODE : 3. KARBON/MISSISIPIAN
1.3.3.1. KALA/SERI : Atas/Akhir (326,4 ± 1,6); Tengah (345,3 ± 2,1 ); Bawah/Awal (359,2 ± 2,5 )
Peristiwa Utama : Large primitive trees, first land vertebrates, and amphibious sea-scorpions live amid coal-forming coastal swamps. Lobe-finned rhizodonts are big fresh-water predators. In the oceans, early sharks are common and quite diverse; echinoderms (esp. crinoids and blastoids) abundant. Corals, bryozoa, goniatites and brachiopods (Productida, Spiriferida, etc.) very common. But trilobites and nautiloids decline. Glaciation in East Gondwana.
1.3.4. PERIODE : 3. DEVON
1.3.4.1. KALA/SERI : Atas/Akhir (385,3 ± 2,6);
Tengah (397,5, ± 2,7 ); Bawah/Awal (416,0 ± 2,8 )
Peristiwa Utama : First clubmosses, horsetails and ferns appear, as do the first seed-bearing plants (progymnosperms), first trees (the tree-fern Archaeopteris), and first (wingless) insects. Strophomenid and atrypid brachiopods, rugose and tabulate corals, and crinoids are all abundant in the oceans. Goniatite ammonoids are plentiful, while squid-like coleoids arise. Trilobites and armoured agnaths decline, while jawed fishes (placoderms, lobe-finned and ray-finned fish, and early sharks) rule the seas. First amphibians still aquatic. "Old Red Continent" of Euramerica.
1.3.4. PERIODE : 4. SILUR
1.3.4.1. KALA/SERI : Pridoli (418,7± 2,7); Atas/Akhir –Ludlow (422,9 ± 2,5); Wenlock (428,2± 2,3); Bawah/Awal (443,7 ± 1,5 )
Peristiwa Utama : First vascular plants (the whisk ferns and their relatives), first millipedes and arthropleurids on land. First jawed fishes, as well as many armoured jawless fish, populate the seas. Sea-scorpions reach large size. Tabulate and rugose corals, brachiopods (Pentamerida, Rhynchonellida, etc.), and crinoids all abundant. Trilobites and mollusks diverse; graptolites not as varied.
1.3.5. PERIODE : 5. ORDOVISIUM
1.3.5.1. KALA/SERI : Atas/Akhir (460,9 ± 2,6); Tengah (471,8, ± 1,6 ); Bawah/Awal (488,3 ± 1,7 )
Peristiwa Utama : Invertebrates diversify into many new types (e.g., long straight-shelled cephalopods). Early corals, articulate brachiopods (Orthida, Strophomenida, etc.), bivalves, nautiloids, trilobites, ostracods, bryozoa, many types of echinoderms (crinoids, cystoids, starfish, etc.), branched graptolites, and other taxa all common. Conodonts (early planktonic vertebrates) appear. First green plants and fungi on land. Ice age at end of period.
1.3.6. PERIODE : 6. KAMBRIUM
1.3.6.1. KALA/SERI : Atas/Akhir –Furongian (501,0 ± 2,0);
Tengah (513,0, ± 2,0 ); Bawah/Awal (542,0 ± 0,3 )
Peristiwa Utama : Major diversification of life in the Kambrium Explosion. Many fossils; most modern animal phyla appear. First chordates appear, along with a number of extinct, problematic phyla. Reef-building Archaeocyatha abundant; then vanish. Trilobites, priapulid worms, sponges, inarticulate brachiopods (unhinged lampshells), and many other animals numerous. Anomalocarids are giant predators, while many Ediacaran fauna die out. Prokaryotes, protists (e.g., forams), fungi and algae continue to present day. Gondwana emerges.


2. EON : PRAKAMBIUM - PROTEROZOIKUM
2.1. ERA : NEOPROTEROZOIKUM
2.1.1. PERIODE : EDIACARAN (630 +5/ 30)
Peristiwa Utama : Good fossils of multi-
celled animals. Ediacaran fauna (or Vendobionta) flourish worldwide in seas. Trace fossils of worm-like Trichophycus, etc. First sponges and trilobitomorphs. Enigmatic forms include oval-shaped Dickinsonia, frond-shaped Charniodiscus, and many soft-jellied creatures.
2.1.2. PERIODE : CRYOGENIAN (850)
Peristiwa Utama : Possible "snowball Earth" period. Fossils still rare. Rodinia landmass begins to break up.
2.1.3. PERIODE : TONIAN (1000)
Peristiwa Utama : Rodinia supercontinent persists. Trace fossils of
simple multi-celled eukaryotes. First radiation of dinoflagellate-like acritarchs.
2.2. ERA : MESOPROTEROZOIKUM
2.2.1. PERIODE : STENIAN (1200)
Peristiwa Utama : Narrow highly metamorphic belts due to orogeny as supercontinent Rodinia is formed
2.2.2. PERIODE : ECTASIAN (1400)
Peristiwa Utama : Platform covers continue to expand.
Green algae colonies in the seas.
2.2.3. PERIODE : CALYMMIAN (1600)
Peristiwa Utama : Platform covers expand.
2.3. ERA : PALEOPROTEROZOIKUM
2.3.1. PERIODE : STATHERIAN (1800)
Peristiwa Utama : First complex
single-celled life: protists with nuclei. Columbia is the primordial supercontinent.
2.3.2. PERIODE : OROSIRIAN (2050)
Peristiwa Utama : The atmosphere became
oxygenic. Vredefort and Sudbury Basin asteroid impacts. Much orogeny.
2.3.3. PERIODE : RHYACIAN (2300)
Peristiwa Utama : Bushveld Formation occurs. Huronian glaciation.
2.3.4.PERIODE : SIDERIAN (2500)
Peristiwa Utama : Oxygen Catastrophe: banded iron formations result.

2. EON : PRAKAMBIUM : 2. ARKEAN
2.1. ERA : NEOARKEAN (2800)
Peristiwa Utama : Stabilization of most modern cratons; possible mantle overturn event.
2.2. ERA : MESOARKEAN (3200)
Peristiwa Utama : First stromatolites (probably colonial
cyanobacteria). Oldest macrofossils.
2.3. ERA : PALEOARKEAN (3600)
Peristiwa Utama : First known oxygen-producing
bacteria. Oldest definitive microfossils.
2.4. ERA : EOARKEAN (3800)
Peristiwa Utama : Simple single-celled life (probably
bacteria and perhaps archaea). Oldest probable microfossils.
2. EON : PRAKAMBIUM - HADEAN (4570)
Peristiwa Utama : Pembentukan bumi (4570 jtl). Zircon,
mineral tertua yang diketahui (4400 jtl).

B. Konsep-Konsep tentang Waktu Geologi.

Pendapat paling dominan sebelum abad ke-18 dimiliki oleh kelompok gereja berdasarkan kajian tekstual terhadap alkitab, mereka menyatakan umur Bumi tidak lebih tua dari 6.000 tahun. Penciptaan Bumi dan segala isinya dalam waktu sedemikian singkat dipercaya melibatkan proses katastropis. Pendapat ini lazim disebut sebagai teori penciptaan. Salah seorang ilmuwan pendukung teori penciptaan adalah Baron Georges Cuvier (1769-1832). Pengamatannya terhadap kumpulan fosil pada setiap lapisan batuan dianggapnya sebagai bukti adanya peristiwa bencana alam bersifat katastropis yang memusnahkan setiap makhluk hidup di setiap kurun waktu tertentu. Upaya ilmiah untuk menentukan umur Bumi telah dilakukan oleh beberapa ilmuwan. Georges Louis de Buffon (1707-1788) menyatakan Bumi mendingin perlahan-lahan dari suatu bola panas. Dengan membuat percobaan laboratorium dengan beberapa bola besi berbagai diameter dan dibiarkan dingin mengikuti temperatur kamar, de Buffon melakukan ekstrapolasi terhadap diameter Bumi sesungguhnya dan menentukan usia Bumi sekitar 75.000 tahun.

Sekelompok ilmuwan lainnya pada paruh abad ke-18 menghitung kecepatan pengendapan berbagai sedimen dan melakukan ekstrapolasi terhadap ketebalan batuan sedimen yang diketahui saat itu, menghasilkan rerata umur Bumi sekitar 1 juta tahun. John Joly, seorang geolog Irlandia, pada abad ke-19 berasumsi bahwa air laut pada mulanya bersifat tawar namun kemudian menjadi asin akibat mineral garam yang dibawa oleh sungai. Dengan menghitung volume seluruh airlaut yang ada di Bumi, dia menentukan waktu 90 juta tahun untuk lautan mencapai kadar salinitas saat ini, yang kemudian dianggap sebagai umur Bumi. Pada tahun 1785, James Hutton (1726-1797), seorang geolog Skotlandia, berdasarkan studi detail terhadap singkapan batuan dan proses alam yang tengah berlangsung saat itu, mengemukakan prinsip keseragaman (uniformitarianisme). Konsep tersebut menyatakan proses geologi yang sama telah bekerja pula pada waktu lampau, dan Hutton menuliskannya sebagai “we find no vestige of a beginning, and no prospect of an end”. Keunggulan prinsip ini lah yang mengantarkan Hutton sebagai Bapak Geologi Modern.

Pada tahun 1830, Charles Lyell, seorang murid James Hutton, menerbitkan buku “Principles of Geology”. Konsep keseragaman menjadi diterima secara luas oleh kalangan ilmuwan dan usia Bumi yang sangat tua diterima oleh masyarakat. Kelak, buku tersebut juga sangat mempengaruhi teori evolusi yang dikembangkan oleh Charles Darwin pada tahun 1859. Lord Kelvin (1824-1907), seorang fisikawan Inggris yang sangat dihormati, pada tahun 1866 mengklaim telah mematahkan fondasi uniformitarianisme geologi. Beranjak dari asumsi umum bahwa Bumi berawal dari sebuah bola panas, Kelvin menghitung usia terbentuknya Bumi berdasarkan suhu leleh batuan, dimensi Bumi dan koefisien pendinginan. Dia menyatakan umur Bumi tidak mungkin lebih tua dari 100 juta tahun. Pendapat Kelvin membuat masyarakat ilmuwan terbelah, antara mendukung konsep Hutton atau menerima kalkulasi Kelvin (yang tampak sangat logis). Pada akhirnya, kampanye Kelvin selama 40 tahun harus berakhir dengan ditemukannya unsur radioaktif di penghujung abad ke-19. Materi radioaktif dipercaya menjaga panas internal Bumi relatif konstan. Penemuan radioaktif tersebut sekaligus membuat para geolog menghitung umur batuan secara mutlak dan menemukan bahwa Bumi memang sangat tua.

C. Pendekatan Waktu Geologi.

Para geolog menggunakan dua pendekatan berbeda untuk menentukan waktu geologi, yaitu:
1. Penanggalan relatif (relative dating) yang menempatkan berbagai peristiwa geologi dalam urutan kronologis berdasarkan posisinya dalam rekaman data geologi.

2.Penanggalan mutlak (absolute dating) menggunakan berbagai teknik dan hasilnya dinyatakan dalam angka tahun sebelum sekarang. Yang paling lazim adalah penanggalan radiometrik dengan menggunakan unsur-unsur radioaktif di dalam batuan.

D. Penanggalan Relatif

Sebelum berkembangnya teknik penanggalan radiometrik, para geologi tidak memiliki cara untuk menentukan umur mutlak dan hanya berpegang kepada metode penanggalan relatif. Penanggalan relatif menempatkan berbagai proses geologi dalam urutan kronologis tertentu, metode ini tidak dapat mengetahui kapan suatu proses terjadi di masa lampau.

Ada 6 prinsip yang dipergunakan dalam penanggalan relatif:

1. Prinsip superposition (Nicolas Steno, 1638-1686): dalam suatu urutan batuan sedimen yang belum terganggu, batuan yang paling tua diendapkan paling bawah sedangkan batuan yang paling muda diendapkan paling atas.

2. Prinsip original horizontality (Nicolas Steno, 1638-1686): dalam proses sedimentasi, sedimen diendapkan sebagai lapisan horisontal.

3. Prinsip lateral continuity (Nicolas Steno, 1638-1686): sedimen melampar secara horisontal ke segala arah hingga menipis dan berakhir di tepi cekungan pengendapan.

4. Prinsip cross-cutting relationship (James Hutton, 1726-1797): intrusi batuan beku atau patahan harus lebih muda daripada batuan yang diintrusi atau yang terpatahkan.

5. Prinsip inclusion: suatu inklusi (fragmen suatu batuan didalam tubuh batuan lain) harus lebih tua daripada batuan yang mengandungnya tersebut.

6. Prinsip fossil succession (William Smith, 1769-1839): fosil yang ada di lapisan paling bawah lebih tua daripada fosil pada lapisan paling atas.


Principles of Cross-cutting Relationship and Inclusions

(a). Aliran lava (lapisan 4) membakar lapisan dibawahnya, dan lapisan 5 mengandung inklusi dari aliran lava, sehingga lapisan 4 lebih muda dari lapisan 3 namun lebih tua dari lapisan 5 dan 6.
(b). Lapisan batuan dibawah dan diatas sill (lapisan 3) terbakar, menunjukkan bahwa sill tersebut lebih muda daripada lapisan 2 dan 4, namun umur lapisan 5 terhadap sill tidak dapat ditentukan.





a. Granit lebih muda daripada batupasir karena batupasir terpanggang pada bidang kontaknya dengan granit dan granit mengandung inklusi batupasir.

b. Inklusi granit didalam batupasir menunjukkan granit lebih tua daripada batupasir.





Principle of Faunal Succession



William Smith mempergunakan fosil untuk mengidentifikasi perlapisan yang sama umurnya dari berbagai lokasi terpisah, kelak metode ini dikenal sebagai prinsip faunal succession.

Ketidakselarasan

Siccar Point, Berwickeshire, Skotlandia tenggara.Disinilah James Hutton, James Hall dan John Playfair pada tahun 1788 menemukan prinsip ketidakselarasan.

Waktu geologis bersifat menerus/kontinyu, namun informasi dimana waktu tersebut didapatkan berasal dari rekaman batuan yang bersifat tidak menerus/diskontinyu. Bidang ketidakmenerusan dalam urutan batuan yang menunjukkan terganggunya proses sedimentasi dalam waktu yang cukup lama disebut sebagai bidang ketidakselarasan (unconformity).

Waktu geologi yang hilang dari rekaman batuan, karena tidak adanya pengendapan batuan, disebut sebagai hiatus. Sehingga bidang ketidakselarasan bisa juga disebut sebagai bidang dimana tidak adanya pengendapan (non-deposisi) atau erosi yang memisahkan batuan yang lebih muda terhadap batuan yang lebih tua.

Terdapat 3 jenis ketidakselarasan :

1. Disconformity (antara 2 unit batuan sedimen yang paralel).

2.Angular unconformity (antara 2 unit batuan sedimen yang menyudut).

3. Nonconformity (antara batuan kristalin dan batuan sedimen).

E. Skala Waktu Geologi.

Skala waktu geologi digunakan oleh para ahli geologi dan ilmuwan untuk menjelaskan waktu dan hubungan antar peristiwa yang terjadi sepanjang sejarah Bumi. Tabel periode geologi yang ditampilkan di halaman ini disesuaikan dengan waktu dan tatanama yang diusulkan oleh International Commission on Stratigraphy dan menggunakan standar kode warna dari United States Geological Survey. Bukti-bukti dari penanggalan radiometri menunjukkan bahwa bumi berumur sekitar 4.570 juta tahun. Waktu geologi bumi disusun menjadi beberapa unit menurut peristiwa yang terjadi pada tiap periode. Masing-masing zaman pada skala waktu biasanya ditandai dengan peristiwa besar geologi atau paleontologi, seperti kepunahan massal. Sebagai contoh, batas antara zaman Kapur dan Paleogen didefinisikan dengan peristiwa kepunahan dinosaurus dan baerbagai spesies laut. Periode yang lebih tua, yang tak memiliki peninggalan fosil yang dapat diandalkan perkiraan usianya, didefinisikan dengan umur absolut.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan.

Konsep waktu (yang benar) ditemukan di Edinburgh pada dekade 1770-an oleh sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh James Hutton. Mereka menantang konsep waktu konvensional yang telah ada di sepanjang sejarah hidup manusia, yang menyatakan bahwa unit waktu terukur adalah rentang hidup manusia dan bahwa umur planet Bumi hanya 6000 tahun (yang dihitung oleh Uskup Ussher berdasarkan kronologi alkitab). Hutton dan kawan-kawan telah mempelajari batuan di sepanjang pesisirSkotlandia dan menyimpulkan bahwa setiap formasi batuan, betapapun tua, adalah hasil erosi dari batuan lain, yang jauh lebih tua. Penemuan mereka memperlihatkan bahwa waktu terentang sangat jauhmelebihi manusia mampu bayangkan.

Waktu Geologi terbagi menjadi 2 EON (Fanerozoikum dan Prakambrium) yang masing-masing terbagi menjadi beberapa Era yaitu : Kenozoikum, Mesozaikum, dan Paleozaikum ( Eon Fanerozoikum) serta era Neoproterozaikum, Mesoproterozaikum, Paleoproterozaikum, Neoarkean, Mesoarkean, Paleoarkean, dan era Eoarkean (Eon Prakambrium).

B. Saran.

Pendapat paling dominan sebelum abad ke-18 dimiliki oleh kelompok gereja berdasarkan kajian tekstual terhadap alkitab, mereka menyatakan umur Bumi tidak lebih tua dari 6.000 tahun. Penciptaan Bumi dan segala isinya dalam waktu sedemikian singkat dipercaya melibatkan proses katastropis.

DAFTAR PUSTAKA

Sapiie, Benyamin, dkk. anonim. Geologi Fisik. Bandung: ITB.

www.geology.com